Fungsikan 20 Hektar Lahan di Pulau Kumala, DLHK Kukar Canangkan Pembangunan Taman Kehati

img

Pulau Kumala, Tenggarong. (pic:Tanty)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) merencanakan pengembangan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) di Pulau Kumala seluas 20 hektare.

 

Kawasan ini akan difungsikan sebagai pusat konservasi tumbuhan lokal sekaligus destinasi wisata edukasi.

 

Kepala Bidang Tata Lingkungan DLHK Kukar, Yudiarta, menjelaskan bahwa Taman Kehati nantinya tidak hanya berfokus pada tanaman penyedia pakan satwa seperti burung pemakan biji-bijian, tetapi juga akan dikembangkan menjadi tempat pelestarian berbagai tanaman khas Kutai Kartanegara yang mulai langka.

 

“Ke depan, kami ingin menghadirkan berbagai jenis tanaman lokal seperti ihau, lapong, dan ulap doyo yang saat ini sudah jarang ditemui, terutama oleh generasi muda,” ujarnya saat diwawancarai Poskotakaltimnews, Kamis (26/03/2026).

 

Menurut Yudiarta, untuk pengumpulan bibit tanaman tersebut masih mudah dilakukan, sebab beberapa wilayah di Kukar dinilai masih tersedia komuditas bibit-bibit tanaman yang dibutuhkan, khususnya dari wilayah Kota Bangun yang masih memiliki keberadaan tanaman-tanaman tersebut.

 

“Nantinya, bibit akan ditanam di kawasan Taman Kehati untuk mendukung fungsi edukasi bagi masyarakat,” katanya.

 

Lebih lanjut Yudiarta mengatakan Pulau Kumala sendiri memiliki luas sekitar 80 hektare, dan untuk taman Kehati telah ditetapkan sekitar 20,8 hektare melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Kutai Kartanegara.

 

“Untuk lokasi taman berada di area Aviary ,yang ditandai dengan bangunan berbentuk kubah besi,” ujarnya.

 

Selain pengembangan tanaman, ia mengaku DLHK Kukar juga berencana menata kembali habitat satwa yang ada di kawasan tersebut, termasuk rusa atau payau yang masih ditemukan di lokasi. Pemantauan satwa bahkan telah dilakukan menggunakan kamera.

 

Tak hanya itu, kawasan ini juga akan menghidupkan kembali tanaman-tanaman yang memiliki nilai budaya, termasuk yang digunakan dalam ritual adat seperti Erau. Dengan konsep tersebut, Taman Kehati diharapkan menjadi ruang belajar terbuka bagi pelajar dan masyarakat umum.

 

“Pulau Kumala nantinya tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga sarana edukasi lingkungan dan pelestarian budaya lokal,” tambahnya.

 

Meski demikian, Yudiarta mengaku pengembangan Taman Kehati masih membutuhkan dukungan pembiayaan. DLHK Kukar pun berencana menggandeng pihak perusahaan melalui skema kerja sama untuk mendukung realisasi program tersebut.

Dirinya berharap, kolaborasi tersebut dapat mempercepat terwujudnya Taman Kehati sebagai ikon baru wisata edukasi dan konservasi di Kutai Kartanegara. (Tan)